Sunday, 5 January 2025

Qudrah Allah dalam Asya'irah dan Maturidiah

 Konsep qudrah Allah (kekuasaan Allah) merupakan salah satu bahasan penting dalam teologi Islam, termasuk dalam mazhab Asy’ariyah dan Maturidiyah. Keduanya sepakat bahwa Allah memiliki kekuasaan mutlak dan tak terbatas, tetapi ada perbedaan dalam cara memahami implikasi kekuasaan tersebut terhadap ciptaan dan perbuatan manusia. Berikut adalah perbandingan pandangan Asy’ariyah dan Maturidiyah terkait qudrah Allah:



---


1. Kekuasaan Allah atas Segala Sesuatu


Asy’ariyah:


Menegaskan bahwa qudrah Allah meliputi segala sesuatu secara mutlak.


Semua perbuatan manusia, baik dan buruk, diciptakan oleh Allah. Manusia hanya memiliki kemampuan untuk "mengusahakan" (kasb), tetapi tidak memiliki kekuasaan penciptaan.


Allah dapat melakukan apa pun yang dikehendaki-Nya, bahkan hal-hal yang menurut akal manusia tidak masuk akal (seperti menciptakan sesuatu tanpa sebab).


Contoh: Allah dapat menghukum orang yang taat atau memberikan pahala kepada orang yang berdosa jika Dia menghendaki, karena qudrah Allah tidak terikat oleh keadilan manusia.




Maturidiyah:


Juga meyakini bahwa qudrah Allah mencakup segala sesuatu, tetapi lebih menekankan bahwa kekuasaan Allah tidak akan bertentangan dengan hikmah (kebijaksanaan) dan keadilan-Nya.


Allah tetap menciptakan perbuatan manusia, tetapi manusia diberi kebebasan kehendak (ikhtiyar) dalam batas yang ditentukan oleh Allah.


Allah tidak melakukan sesuatu yang secara hakikat bertentangan dengan keadilan atau kebijaksanaan-Nya, meskipun Dia memiliki kekuasaan untuk melakukannya.




---


2. Hubungan Qudrah Allah dengan Perbuatan Manusia


Asy’ariyah:


Manusia tidak memiliki kekuasaan yang mandiri. Semua perbuatan manusia, termasuk pilihan dan kehendak mereka, diciptakan oleh Allah.


Manusia hanya memiliki kasb (usaha), yaitu keterlibatan secara simbolis dalam perbuatan mereka. Namun, perbuatan itu sepenuhnya terjadi karena qudrah Allah.


Contoh: Ketika seseorang memilih untuk berbuat baik, pilihan itu merupakan bagian dari kasb-nya, tetapi tindakan nyata terjadi karena kekuasaan Allah.




Maturidiyah:


Mengakui bahwa Allah adalah pencipta segala sesuatu, termasuk perbuatan manusia, tetapi manusia memiliki ikhtiyar (kehendak bebas).


Perbuatan manusia terjadi karena manusia "memilih" untuk melakukannya, sedangkan Allah memberikan kekuasaan untuk melaksanakan perbuatan tersebut.


Contoh: Ketika seseorang melakukan amal kebaikan, pilihannya adalah kehendak manusia, tetapi kekuasaan untuk melaksanakan amal itu berasal dari Allah.





---


3. Hubungan Qudrah Allah dengan Takdir


Asy’ariyah:


Qudrah Allah menentukan segala sesuatu, baik dalam aspek takdir (qada dan qadar) maupun dalam hal yang terjadi di dunia.


Semua yang terjadi, termasuk perbuatan manusia, adalah bagian dari kehendak dan qudrah Allah yang telah ditetapkan sejak azali.


Dalam hal ini, Asy’ariyah lebih cenderung menekankan kekuasaan mutlak Allah tanpa terlalu memperhatikan bagaimana qudrah Allah berinteraksi dengan kebebasan manusia.



Maturidiyah:


Qudrah Allah menentukan segala sesuatu, tetapi manusia diberi ruang untuk memilih dalam batas tertentu.


Takdir (qada dan qadar) tetap berada di bawah kendali qudrah Allah, tetapi tidak menghilangkan tanggung jawab manusia atas perbuatannya.


Dalam pandangan Maturidiyah, ini menunjukkan keadilan dan kebijaksanaan Allah dalam memberikan manusia kebebasan terbatas.




---


4. Hikmah dalam Qudrah Allah


Asy’ariyah:


Menekankan bahwa qudrah Allah tidak terikat oleh hikmah atau keadilan yang dipahami manusia. Allah dapat melakukan apa saja sesuai kehendak-Nya, tanpa harus mengikuti prinsip yang dianggap manusia sebagai hikmah.


Kebijaksanaan Allah tidak selalu dapat dipahami oleh akal manusia.



Maturidiyah:


Qudrah Allah selalu selaras dengan hikmah dan keadilan-Nya. Allah tidak akan melakukan sesuatu yang bertentangan dengan sifat-sifat tersebut.


Misalnya, Allah tidak akan menghukum orang yang taat atau mengabaikan janji-Nya kepada hamba-Nya, karena hal itu bertentangan dengan keadilan-Nya.




---


Kesimpulan


Keduanya sepakat bahwa Allah memiliki qudrah yang mutlak, tetapi Maturidiyah lebih menekankan keseimbangan antara kekuasaan Allah dan kebebasan manusia, sedangkan Asy’ariyah lebih menitikberatkan pada kekuasaan Allah yang mutlak dan tanpa batas.


No comments:

Post a Comment