Sunday, 5 January 2025

Al-Wala’ wal Bara’ dalam Pemahaman Madkhali

 


Al-Wala’ wal Bara’ dalam Pemahaman Madkhali merujuk pada konsep loyalitas dan pemutusan hubungan yang diterapkan dalam kerangka akidah dan manhaj (metode) Salafiyah Madkhaliyah. Gerakan ini berasal dari pemikiran Rabi’ bin Hadi al-Madkhali, seorang ulama Salafi dari Arab Saudi yang dikenal karena pendekatannya yang ketat terhadap loyalitas kepada penguasa Muslim dan kritiknya terhadap kelompok Islamis lainnya.

Konsep Al-Wala’ wal Bara’ menjadi salah satu prinsip utama dalam memahami hubungan antara individu, masyarakat, dan penguasa dalam perspektif Madkhali, sering kali dengan fokus yang kuat pada ketaatan kepada penguasa dan penolakan terhadap kelompok yang dianggap menyimpang dari manhaj Salaf.


Pemahaman Al-Wala’ wal Bara’ dalam Madkhalisme


1. Al-Wala’ (Loyalitas)

Kepada Allah, Rasul-Nya, dan Sesama Muslim yang Mengikuti Salaf:

Loyalitas utama adalah kepada Allah, Rasul-Nya, dan orang-orang yang mengikuti ajaran Islam sebagaimana dipahami oleh generasi Salaf.

Kepada Penguasa Muslim yang Sah:

Dalam pemikiran Madkhali, wala’ kepada penguasa Muslim adalah kewajiban, bahkan jika penguasa tersebut memiliki kelemahan atau melakukan kesalahan. Ketaatan kepada penguasa dianggap sebagai bagian dari menjaga stabilitas umat Islam, selama tidak diperintahkan untuk melakukan maksiat.

 "Hai orang-orang yang beriman, taatilah Allah dan taatilah Rasul (Nya), dan ulil amri di antara kamu..."

(QS. An-Nisa: 59)

2. Al-Bara’ (Berlepas Diri)

Dari Syirik, Bid‘ah, dan Kekufuran:

Madkhalisme menekankan bara’ dari segala bentuk syirik, kekufuran, dan bid‘ah, termasuk praktik atau kelompok yang menyimpang dari manhaj Salaf.


Dari Kelompok yang Menentang Penguasa:


Madkhalisme sangat keras dalam menerapkan bara’ terhadap kelompok yang dianggap memberontak atau mengkritik penguasa Muslim secara terbuka, seperti Ikhwanul Muslimin atau kelompok jihadis. Kritik terhadap penguasa dianggap sebagai bentuk pemberontakan yang melanggar prinsip Islam.


Ciri-Ciri Penerapan Al-Wala’ wal Bara’ dalam Madkhali


1. Loyalitas kepada Penguasa

Madkhali menekankan pentingnya menjaga stabilitas politik dengan menunjukkan loyalitas penuh kepada pemerintah Muslim, bahkan jika penguasa tersebut melakukan dosa atau kekeliruan. Mereka percaya bahwa kritik terbuka terhadap penguasa dapat menimbulkan fitnah (kekacauan) dan melemahkan umat Islam.

2. Penolakan terhadap Kelompok Islamis

Madkhali terkenal karena sikap kerasnya terhadap kelompok Islamis seperti Ikhwanul Muslimin, Hizbut Tahrir, dan kelompok jihadis lainnya. Mereka menganggap kelompok ini sebagai pelaku bid‘ah yang menyesatkan umat Islam.

Bara’ diterapkan dengan cara memutus hubungan, melabeli mereka sebagai "khawarij" (kelompok pemberontak), atau menyebut mereka sebagai ancaman bagi stabilitas umat.

3. Kesetiaan terhadap Manhaj Salaf

Al-Wala’ diberikan kepada ulama dan individu yang mengikuti manhaj Salaf secara ketat. Madkhalisme sering mengkritik bahkan sesama Salafi yang dianggap menyimpang dari jalan ini, seperti mereka yang mendukung aktivisme politik.

4. Penekanan pada Ketaatan Mutlak (tanpa Kritik Terbuka)

Dalam Madkhalisme, kritik terhadap penguasa Muslim dianggap sebagai bentuk pemberontakan yang dilarang. Kritik hanya diperbolehkan secara pribadi dan rahasia, bukan melalui media atau forum publik.



Kritik terhadap Pemahaman Madkhali tentang Al-Wala’ wal Bara’


1. Kecenderungan Mendukung Otoritarianisme

Sikap Madkhali yang memberikan ketaatan tanpa syarat kepada penguasa sering dikritik sebagai dukungan terhadap otoritarianisme, bahkan terhadap penguasa yang secara terang-terangan melanggar prinsip-prinsip Islam.

2. Fragmentasi Umat Islam

Pendekatan bara’ yang sangat eksklusif sering kali menyebabkan perpecahan di antara umat Islam, terutama karena Madkhali cenderung melabeli kelompok atau individu lain sebagai penyimpang atau pelaku bid‘ah.

3. Kritik terhadap Ketidakseimbangan dalam Al-Wala’ wal Bara’

Banyak yang menganggap bahwa Madkhalisme terlalu menekankan wala’ kepada penguasa tanpa memberikan perhatian yang cukup kepada prinsip-prinsip keadilan dan tanggung jawab penguasa dalam menerapkan syariat Islam.

4. Pandangan Ulama Lain

Beberapa ulama Salafi lainnya, seperti Syaikh Salman al-Awdah atau Syaikh Safar al-Hawali, mengkritik pendekatan Madkhali sebagai terlalu sempit dan tidak realistis, terutama dalam konteks modern yang memerlukan pendekatan dialogis dan kolaboratif.


Dampak Penerapan Al-Wala’ wal Bara’ oleh Madkhali


1. Hubungan dengan Pemerintah

Madkhali sering dianggap sebagai "pendukung pemerintah" karena pendekatannya yang mengutamakan stabilitas politik di atas kritik terhadap penguasa.

Di beberapa negara, pendekatan ini mendapat dukungan pemerintah karena dianggap dapat meredam gerakan oposisi Islamis.

2. Perpecahan dalam Salafisme

Madkhali sering berkonflik dengan kelompok Salafi lain, terutama yang terlibat dalam aktivisme politik atau yang mengkritik penguasa Muslim. Hal ini menyebabkan fragmentasi dalam gerakan Salafi global.

3. Reputasi Internasional

Pendekatan Madkhali sering dikritik di tingkat internasional sebagai bentuk konservatisme ekstrem, tetapi juga dianggap sebagai benteng melawan ekstremisme kekerasan karena menolak pemberontakan dan terorisme.


Kesimpulan


Al-Wala’ wal Bara’ dalam Madkhali merupakan konsep yang sangat berorientasi pada loyalitas terhadap penguasa Muslim dan penolakan terhadap segala bentuk penyimpangan, termasuk pemberontakan politik. Meskipun memiliki dasar dalam ajaran Islam, pendekatan ini sering dikritik sebagai terlalu eksklusif, konservatif, dan mendukung otoritarianisme.

Di sisi lain, Madkhali dianggap berhasil menjaga stabilitas politik dalam beberapa konteks, terutama dengan menolak ekstremisme kekerasan. Namun, penerapannya yang terlalu kaku sering kali menimbulkan perpecahan di kalangan umat Islam, sehingga memerlukan pemahaman yang lebih seimbang dan inklusif.

No comments:

Post a Comment